Menyoal Taman Budaya Raden Saleh; Teater Arena yang Hilang

Oleh: Eko Tunas*


PADA1990 Bambang Sadono menulis di Suara Merdeka: TBRS Idenya Eko Tunas. Setiap mengingat kolom itu, ada perasaan kehilangan pada diri saya. Pada 1981, saya mengantar rombongan Teater RSPD Tegal untuk pentas di Pekan Raya Promosi Pembangunan (PRPP) Semarang. Saat itu PRPP diselenggarakan di THR Tegalwareng, lokasi sebelum TBRS dibangun. Ternyata Teater RSPD pentas di satu arena yang membuat saya takjub. Yakni di bagian belakang area THR Tegalwareng. Satu arena yang cukup luas, layak untuk pementasan kolosal. Untuk sampai di dataran arena itu, kami mesti melewati dua lorong berundak bawah tanah. Para penonton duduk di trap-trap  beton sekeliling teater arena yang dahsyat itu!

Dari rasa takjub itulah, pada 1983 saya menulis di Suara Merdeka: Semarang sudah saatnya Punya Taman Budaya. Dalam tulisan saya itu saya menunjuk tempat yang tepat di lokasi THR Tegalwareng, dengan penyebutan nama Taman Budayanya: Taman Raden Saleh. Artikel saya  mendapat tanggapan dari Pamuji MS, yang lebih mengajukan nama Taman Narto Sabdho. Terlepas dari itu, pemikiran saya lebih kepada perlunya Ibukota Jawa Tengah memiliki taman kesenian semacam Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, atau Taman Budaya Surakarta (TBS). Tak lain karena sejak 1981, saya melihat kehidupan kesenian di Semarang tidaklah kalah dibanding dua kota tersebut, baik produktivitas maupun kreativitasnya.

Sejak 1981 hingga menjelang reformasi, di Semarang ada puluhan kelompok teater. Sehingga beberapa tokoh teaternya perlu membentuk satu kelembagaan untuk mewadahi grup-grup teater itu, yakni Koordinasi Grup-GrupTeater Semarang (KGTS). Di bidang senirupa ada Sanggar Raden Saleh, satu ajang guna membuat ikatan para perupa. Di dunia sastra ada Keluarga Penulis Semarang (KPS), ruang berkiprahnya para penulis dalam diskusi atau pemanggungan karya-karya sastra. Ditambah beberapa mediamasa di Semarang, yang membuka ruang budaya, banyak melahirkan penyair, cerpenis, novelis, juga esais. Beberapa nama dan karya yang tercatat, bahkan berkibar di jagad sastra nasional bahkan internasional.

Belum lagi keberadaan kesenian tradisional, terutama Wayang Orang Ngesti Pandhowo. Ngesti saat itu memang masih menempati gedung legendarisnya, di Jalan Pemuda Semarang. Tapi kesenian lain, yang sebutlah kesenian modern, mesti bergerilya dalam melakukan pameran atau pementasan. Saya katakan bergerilya, karena kegiatan mereka itu bersifat nirlaba dengan dana patungan. Antaralain di Gedung Pemuda, Aula STM Pembangunan, atau yang lebih bersewa mahal di Gedung Pancasila Simpanglima. Maklumlah, saat itu belum ada Dewan Kesenian, sebagai kepanjangan tangan pemerintah, termasuk dengan dana yang ada. Seniman semarang terus memperjuangkan kesenian di kota yang dikenal sebagai kota dagang.

Adalah wajar kalau saya membayangkan, dibangunnya taman budaya sebagai ruang berkiprah para seniman Semarang. Sampai kemudian TBRS itu terwujud pembangunannya, dan para seniman menyambut dengan gembira. Tapi begitu saya melihat taman budaya itu, kekecewaan justru menghentak diri saya. Beberapa gedung saya lihat tidak representetif  sebagai galeri atau gedung teater. Terutama gedung utama yang tertulis Gedung Teater, tapi kenyataannya tidak ubahnya gedung pertemuan biasa. Saya pun menulis di beberapa mediamasa tentang kekecewaan itu, tapi rupanya tidak ada tanggapan dari para seniman yang tengah bereforia. Mereka baru mengeluh, saat separo area TBRS disewa pihak swasta sebagai taman rekreasi.

Kekecewaan saya yang membuat saya merasa sangat kehilangan ialah, saat saya melihat bagaimana dengan teater arena yang dahsyat itu. Betapa tidak, teater arena itu telah rata tanah, samasekali tidak bersisa. Bagian belakang TBRS tak tertangani, terurug bongkahan tanah dan bekas bongkaran bangunan. Tidak seperti yang saya bayangkan, TBRS dengan pelestarian teater arena itu, akan lebih dahsyat dari TIM atau TBS. Bahkan teater arena itu setara dengan teater terbuka di Candi Borobudur, atau bahkan Sidney Opera House. Saya pun menyadari, satu lagi Semarang kehilangan aset luarbiasanya. Ini tentu disebabkan karena tidak adanya perhatian, wawasan seni-budaya, atau ahli di bidang artefak seni yang telah mensejarah.

Kini, setelah pada 2007 terancam tergusur oleh pembangunan mall, TBRS kembali dihadapkan pada penggusuran atas rencana pembangunan tempat rekreasi bercitarasa Hollywood. Para seniman tentu saja marah, terutama mereka yang merasa dibesarkan oleh keberadaan TBRS. Termasuk bayangan mereka, bahwa TBRS bukan hanya taman kesenian tapi juga konservasi hutan kota, akan semakin terpapras. Lagi-lagi ini merupakan kesalahan fatal, secara alam dan kebudayaan. Bagaimana nanti Semarang kehilangan lagi resapan air hujan, dan bagaimana jadinya kota yang kehilangan nilai budayanya. Teater arena yang hilang itu barangkali satu tanda, bahwa dekadensi kota terjadi, saat keindahan berubah menjadi kemewahan. (Sumber: Catatan Fb: 6 April 2015)



*Eko Tunas; Budayawan dan Pembina di Jentera Semesta

1 komentar:

Video

Video