Lima Falsafah Jawa: Makna Kemerdekaan

APAKAH kita sudah merdeka? Sebuah pertanyaan ringan namun sangat berat ketika ingin menjawabnya. Dalam konteks kenegaraan, tentu kita sudah merdeka. Kemerdekaan yang dikumandangkan karena kita sudah outside yakni memiliki maksud bahwa kita sudah merdeka dalam bentuk penjajahan dari luar yakni penjajahan kolonial. Namun dalam kontek inside yakni dari dalam kita masih terjebak pada penjajahan yang terus berlanjut baik aspek ekonomi, politik, pendidikan maupun kebudayaan.

Akan menjadi persoalan besar kalau kita meninjaunya dari inside kemerdekaan. Dan selama ini dalam menjalani rutinitas kemerdekaan acapkali sebagai bentuk kesenangan dan ekspresi tahunan yang terus berlanjut yakni peringatan hari ulang tahun kemerdekaan. Karena kita meyakni bahwa kita sudah merdeka dalam konteks outside.

Namun tidak menjadi soal karena kita memperingati ouside kemerdekaan, maka kita merayakan kemerdekaan tersebut dengan suka cita sehingga kita merasakan kenikmatan dan kebahagiaan bisa merasakan nikmatnya kemerdekaan. Sebagaimana kita ketahui masa penjajahan adalah masa buram bangsa ini.

Outside kemerdekaan ini sebagai perayaan ulang tahun dimana setiap tahun kita merayakannya. Ouside kemerdekaan ini berbagai macam perayaan dan hidangan akan nikmatnya perhelatan beragam acara dari berbagai daerah. Seperti malam tirakatan perayaan ulang tahun outside kemerdekaan, ajang perlombaan dan pertandingan dan tidak lupa upacara pengibaran bendera merah putih.

Meski kita menyadari masih terjajah pada wilayah inside. Namun disini tidak akan membahas pertanyaan awal yakni apakah kita sudah merdeka. Akan tetapi tidak akan lari dari landasan kemerdekaan itu sendiri baik itu kemerdekaan ouside maupun inside.

Marilah kita bicarakan tentang kedirian kita sebagaimana leluhur kita telah memberikan wejangan melalui falsafahnya. Yakni falsafah orang-orang jawa tentang diri kita, yang kita korelasikan dengan kemerdekaan yang hakiki dan kemerdekaan dengan materi  Ada lima unsur falsafah ajaran jawa yang menjadi prioritas sederhana, akan tetapi memiliki makna luar biasa. Falsafah tersebut ada lima yakni; Kukilo (burung), Wanita (Wanita), Curigo (waspada/pusaka), Turonggo (kuda), Wisma (rumah).

Pertama, Kukilo atau burung, bahwa masyarakat jawa suka memlihara burung sebagai hewan hiasan. Memiliki makna bahwa kita harus mampu menghadirkan kemerdekaan pada diri kita sebagaimana burung terbang di alam bebas. Karena ia dipelihara maka memiliki maksud setidaknya dua hal yakni karena suaranya maka kita harus memiliki tutur kata yang baik. Karena bentuknya maka secara fisik kita harus mampu menjadi diri yang kuat dan memiliki laku keindahan.

Dalam konteks konotasi maka kita harus memiliki harta benda, jika dulu masyarakat jawa menyebutnya rajakaya berupa perternakan. Maka kemerdekaan ada pada diri ini jika kita juga memiliki usaha sampingan atau harta yang mejadi inguan atau peliharaan.

Kedua, wanito mejadi perlambang wanita yakni kita harus mampu bersikap universal sebagaimana kedirian seorang ibu memiliki rasa kasih sayang dan kelembutan dan mensifat jiwa pamomong yakni merawat. Pada dataran konotasi bahwa seorang raja memiliki beberapa istri atau selir. Namun pada era sekarang ini bukan yang dimaksud dari wanito adalah wanita atau istri itu sendiri. Akan tetapi memiliki relasi atau hubungan baik dengan orang lain.

Ketiga, curigo yakni memiliki maksud waspada dan pusaka (senjata), kita diajarkan untuk eling lan waspodo. Makna dari waspada ini bahwasanya diharapkan pada diri kita selalu memiliki kewaspadaan. Sedangkan dalam arti pusaka bahwa kita memiliki pusaka atau senjata. Senjata ini sebagai kemampuan untuk melindungi diri kita dari ancaman. Dalam dataran konotasi maka jiwa merdeka jika kita mampu memiliki keamanan atau bodyguard dalam konteks pebisnis kita memiliki pelayan ataupun pekerja.

Keempat, turonggo atau kuda (kendaraan) yakni mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mampu mengendalikannya. Seperti bagaimana menungganginya, maka tali kendali itu harus kuat. Maka pada diri ini kita harus mampu mengendalikan nafsu dan ego kita. Dalam konteks konotasi kemerdekaan ini turonggo memiliki maksud tumpangan atau kendaraan, bahwa dalam menjalani hidup ini kita harus memiliki fasilitas berupa kendaraan atau mobil. Kendaraan sebagai media tranportasi dan bahkan sekarang ini hampir masyarakat memiliki kendaraan dan mejadi prestise kehidupan bermasyarakat.

Kelima, wisma atau rumah pandangan ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus menjadi rumah yang mampu menampung baik itu masalah di dalam keluarga maupun masalah orang lain. Menjadi ruang kesejukan yang memberikan kedamaian kepada siapa saja. Dalam konteks konotasi rumah menjadi alat ukur kemerdekaan yakni memiliki rumah yang bagus seperti gedung-gedung yang megah dan bahkan rumah tersebut dimaknai sebagai rumah usaha dengan memiliki beragam tempat usaha.

Inilah makna lima falsafah jawa dalam konteks kedirian kita, falsafah dalam bentuk makna denotasi dan konotasi tentang kemerdekaan diri kita. (Oleh: Lukni Maulana/Pengasuh Jentera Semesta Kota Semarang)

Tidak ada komentar

Video

Video